Salah Paham Mengenai Hermeneutika

Apa
sebetulnya pengertian paling elementer dari hermeneutika? Betulkah ia
mengancam Islam? Apakah hermeneutika benar-benar tak dikenal dalam
Islam? Benarkah hermeneutika hanya cocok untuk memahami Injil, dan tak
bisa diterapkan untuk Qur’an? Apa perbedaan dan kesamaan antara
hermeneutika dan ta’wil?

Inilah sejumlah pertanyaan yang layak diajukan. Tujuan artikel ini adalah untuk meluruskan "syubuhat"
atau salah paham mengenai istilah hermeneutika. Sejumlah artikel dan
kolom yang ditulis di majalah, jurnal, atau situs-situs tertentu yang
kemudian beredar di beberapa milis mengandung banyak informasi yang
simpang-siur dan salah-paham yang harus diluruskan. Amat disayangkan
bahwa sejumlah salah paham ini datang dari sejumlah kalangan yang
sebetulnya memiliki pendidikan yang baik serta mendapat akses yang
lumayan bagus pada bacaan yang luas. Beberapa dari mereka bahkan
mendapat pendidikan di Barat.

Hermeneutika, tafsir, ta’wil

Sebagai sebuah istilah, hermeneutika kedengaran serius dan mungkin "angker". Istilah ini sebetulnya memiliki makna yang
sederhana saja, yaitu menafsirkan, penafsiran, tafsir. Dalam The Brill Dictionary of Religion, disebutkan bahwa istilah ini "denotes the methods of interpretation of a text", menunjuk kepada cara-cara untuk menafsirkan sebuah teks. Istilah ini berasal dari kata Yunani, hermeneuein, yakni "to translate" (menerjemahkan) atau "to interpret" (menafsirkan).

Hermeneutika
memang biasanya dikaitkan dengan konteks yang spesifik, yaitu
menafsirkan teks-teks agama. Jadi, hermeneutika memang bukan sekedar
menafsirkan teks secara umum. Meskipun demikian, hermeneutika kemudian
berkembang sebagai salah satu cabang filsafat penafsiran yang berdiri
sendiri yang tak berkaitan lagi secara spesifik dengan penafsiran teks
agama.

Dengan demikian, istilah hermeneutika dalam pengertiannya yang elementer ini sama dengan istilah tafsir atau ta’wil. Secara
kebahasaan, istilah tafsir berasal dari kata "al-fasr" yang berarti menerangkan atau mengungkap (al-bayan wa al-kashf) sebagaimana disebutkan oleh Imam Suyuti dalam Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an.

Al-Suyuti
mengutip sebuah pendapat yang menarik dari al-Raghib al-Asbahani, bahwa
pengertian tafsir lebih bersifat umum ketimbang ta’wil. Sebab, yang
pertama biasanya dipakai dalam konteks memahami "mufradat" atau
kosa-kata, sementara ta’wil lebih sering dipakai dalam konteks memahami
kalimat. Menurut al-Asbahani, ta’wil bisanya dipakai dalam konteks
memahami kitab-kitab yang bersifat keilahian (al-kutub al-ilahiyyah), sementara tafsir bisa dipakai dalam konteks kitab-kitab suci ataupun yang lain; jadi lebih umum sifatnya.

Al-Suyuti mengutip pula pendapat dari Abu Talib al-Taghlabi: bahwa tafsir adalah menerangkan kedudukan dan pengertian sebuah
kata, baik pengertiannya yang bersifat ‘hakikat’ yakni denotatif, atau metaforis/alegoris alias majaz;
sementara ta’wil adalah menerangkan makna yang bersifat esoteris, atau
makna batin. Dengan kata lain, tafsir berkaitan dengan makna lahiriah,
dan ta’wil berkenaan dengan makna batiniah.

Ini semua adalah
pengertian dasar dari istilah tafsir dan ta’wil. Di sini kita bisa
melihat bahwa tafsir, ta’wil dan hermeneutika memiliki pengertian yang
hampir paralel, yaitu interpretasi, terutama yang berkaitan dengan
teks-teks agama, atau "al-kutub al-ilahiyyah", jika memakai istilah
al-Asbahani. Sebagaimana kita lihat di sini pula, kata yang dipakai
adalah bersifat umum, yaitu kitab-kitab keilahian, bukan semata-mata
Qur’an. Jadi, kalau kita memakai pendapat al-Asbahani ini, istilah
ta’wil bisa dipakai dalam konteks kitab-kitab suci secara lebih umum.
Kita, secara teoretis, bisa mengatakan ta’wil untuk Bible, Veda atau
Upanishad.

Pendapat al-Asbahani ini didukung oleh fakta
berikut ini. Kalangan Yahudi yang tumbuh dalam tradisi dan peradaban
Islam memakai istilah tafsir untuk menyebut komentar atas Torah. Encyclopaedia of Judaica,
misalnya, memuat lema yang ditulis oleh Meira Polliack di mana
disebutkan bahwa terjemahan Saadiah Gaon atas "pentateuch", yakni lima
kitab pertama dalam Perjanjian Lama, sebagai tafsir. Saadiah Gaon adalah seorang rabi Yahudi yang sangat terkenal dari Mesir yang wafat pada 942 M.

Istilah
tafsir dalam perkembangannya memang secara spesifik dikaitkan dengan
penafsiran dan pemahaman Qur’an. Al-Suyuti mengutip pendapat
al-Zarkashi, pengarang "Al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an",
sebagai berikut: tafsir adalah ilmu untuk memahami kitab Tuhan yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, untuk menerangkan maknanya, serta
mengeluarkan hukum-hukum dan kebijaksanaan dari dalamnya. Menurut
al-Zarkashi, sumber-sumber tafsir bisa berasal dari leksikografi (‘ilm al-lughah), nahw (tata bahasa Arab), morfologi (tashrif), semantik (‘ilm al-bayan), ushul fiqh (teori hukum Islam), ilmu bacaan (qira’at).

Dengan
kata lain, inti tafsir adalah menerangkan Kitab Suci. Sekali lagi, di
sini ada kesejajaran antara hermeneutika dalam pengertiannya yang
elementer dengan istilah-istilah yang sudah dikenal dalam Islam, yaitu
tafsir dan ta’wil.

Adalah sama sekali keliru jika kita mengira
bahwa antara tafsir, ta’wil dan hermeneutika tak ada kaitan apapun dari
segi pengertian dasarnya. Secara sederhana kita bisa mengatakan bahwa
ta’wil atau tafsir adalah istilah Arab untuk hermeneutika, sebagaimana al-daulah,
misalnya, adalah istilah Arab untuk kata "state" (negara) dalam bahasa
Inggris. Sudah tentu, ketiga kata itu memiliki sejarahnya
masing-masing. Kata "al-daulah" tentu memiliki sejarahnya sendiri dalam
bahasa Arab, begitu pula kata "state". Namun, itu bukan berarti bahwa
kita tak bisa menerjemahkan kata "state" dalam bahasa Inggris dengan
"al-daulah" dalam bahasa Arab hanya gara-gara kedua istilah itu
memiliki sejarah masing-masing yang panjang. Ini berlaku pula untuk
kata ta’wil dan hermeneutika.

Perkembangan hermeneutika

Saya
akan mecoba mengulas secara ringkas perkembangan pengertian
hermeneutika dalam tradisi kesarjanaan Barat. Saya memakai sebuah buku
pengantar berjudul The Hermeneutics Reader yang disunting oleh Kurt Mueller-Vollmer, terbit 2006. Mueller-Vollmer menulis pengantar yang sangat
panjang dan cukup baik mengenai perkembangan hermeneutika dalam tradisi Barat.

Sebagaimana saya tunjukkan di atas, kata ini memiliki pengertian dasar "menafsirkan", to interpret.
Istilah ini terkait dengan nama Hermes, seseorang yang dipercayai
sebagai "utusan" tuhan dalam masyarakat Yunani. Nama Hermes dalam
tradisi Islam juga dikaitkan dengan figur Nabi Idris. Tugas Hermes
adalah membawa pesan dari tuhan kepada manusia. Untuk melaksanakan
fungsi itu, Hermes harus memenuhi syarat pokok: memahami pesan tuhan
serta tahu bagaimana menyampaikannya kepada manusia sesuai dengan
bahasa mereka. Peran Hermes kira-kira sama dengan seorang penerjemah, interpreter,
yang harus menguasai bahasa asal dan bahasa tujuan sekaligus. Dari nama
Hermes inilah lahir istilah hermeneutika. Dengan demikian, hermeneutika
kira-kira adalah ilmu atau cara untuk menafsirkan sesuatu.

Perkembangan
penting dalam sejarah hermeneutika di Barat terjadi saat pecah
Reformasi Protestan pada abad 16. Kaum pembaharu Protestan yang
menentang gereja Vatikan mengembangkan doktrin yang menarik yang
disebut dengan "perspicuitas",
artinya bahwa Kitab Suci, yakni Bible, sudah cukup terang dan
mencukupi-untuk-dirinya-sendiri untuk dipahami oleh seorang beriman,
tanpa bantuan otoritas gereja Vatikan. Prinsip ini terkait dengan
istilah lain yang sudah kita kenal selama ini, yaitu sola scriptura, bahwa Kitab Suci sudah cukup tanpa bantuan tradisi gereja Katolik.

Gerakan
kaum reformis Protestan ini mengingatkan kita pada paham kaum pembaharu
Islam yang dikenal sebagai kaum Salafi. Gerakan mereka disebut
salafiyah. Gerakan ini dicirikan antara lain oleh semboyan: kembali
kepada Qur’an dan hadis (al-ruju’ ila al-kitab wa ‘l-sunnah).
Gerakan ini menganjurkan umat Islam untuk kembali langsung kepada
Qur’an dan hadis, tanpa melewati tradisi mazhab empat yang dikenal
selama ini di kalangan umat Islam "tradisional". Bagi mereka, Qur’an
dan hadis sudah mencukupi, jelas dan terang. Ini hampir sejajar dengan
prinsip perspicuitas yang dikembangkan oleh penggerak reformasi
Protestan. Asumsi yang mendasari gerakan-gerakan reformasi ini adalah
bahwa Kitab Suci tertutup oleh tradisi penafsiran yang berkembang cukup
lama, sehingga untuk menghayati semangat asli Kitab Suci, umat harus
"membuang" tradisi yang dianggap mengotori kesucian Kitab Suci
tersebut. Dalam konteks Islam, yang dimaksud tradisi di sini biasanya
adalah tradisi bermazhab.

Salah
satu tokoh penting dalam tradisi hermeneutika semasa Reformasi
Protestan adalah Matthias Flacius Illyricus yang menulis karya
berbahasa Latin, Clavis Scripturae Sacrae,
terbit pada 1567 M. Dalam buku ini, Flacius mengembangkan dua pokok
argumen. Pertama, bahwa gereja tak boleh memaksakan suatu tafsir
tertentu tentang Bible, dengan alasan bahwa Kitab Suci belum bisa
dipahami dengan tepat oleh umat Kristen, dan karena itu bantuan gereja
dibutuhkan. Dengan latihan dan pendidikan yang memadai, menurut
Flacius, Kitab Suci dapat dipahami dengan baik oleh umat secara lebih
luas, tidak dimonopoli oleh gereja. Kedua, bahwa Kitab Suci mengandung
koherensi dan kontinuitas internal, sehingga siapapun, dengan
menggunakan alat tertentu, bisa memahami Kitab Suci, tanpa bantuan
gereja (Bdk. teori munasabah
dalam sejarah tafsir Qur’an). Argumen kedua ini paralel dengan apa yang
dikemukakan oleh Melanchthon dan Martin Luther, penggerak utama
Reformasi Protestan. Dengan dua argumen ini, Flacius mengembangkan
suatu tradisi hermeneutika atau penafsiran Bible yang independen dari
otoritas gereja.

Lagi-lagi, di sini kita melihat kesejajaran
antara semangat Reformasi Protestan dan Gerakan Salafiyah dalam Islam.
Dalam gerakan Salafiyah, dikembangkan suatu tradisi penafsiran Qur’an
yang kurang lebih independen dari tradisi mazhab. Inilah yang
menjelaskan kenapa dalam keputusan-keputusan majlis tarjih
Muhammadiyah, misalnya, rujukan kepada Kitab Kuning yang memuat
khazanah tradisi bermazhab sama sekali kurang, atau malah tak ada sama
sekali. Dengan kata lain, Muhammadiyah yang diilhami oleh gerakan
Salafiyah Rashid Ridha di Mesir mengembangkan tradisi "hermeneutika"
yang berbasis langsung pada Qur’an dan sunnah. Kalau sekarang ini
intelektual Muhammadiyah yang penting seperti Dr. Amin Abdullah, rektor
UIN Sunan Kalijaga Yogykarta, dengan bersemangat menyambut
hermeneutika, maka hal itu sama sekali tak aneh. Semangat Muhammadiyah
dari awal adalah paralel dengan gerakan Reformasi Protestan yang
mendasarkan diri pada prinsip perspicuitas, kembali kepada Qur’an dan
hadis, sola
scriptura
.

Ini
adalah perkembangan awal hermeneutika dalam tradisi Barat pasca
Reformasi. Di sana terlihat bahwa pertama-tama, hermeneutika
dikembangkan sebagai alat untuk menantang otoritas gereja yang
memonopli tafsir atas Bible, persis seperti gerakan Salafiyah yang
memakai semboyan "kembali kepada Qur’an dan hadis" untuk menantang
monopoli tradisi mazhab.

Tetapi, perkembangan berikutnya
bergerak lebih jauh lagi. Hermeneutika sudah bukan lagi semata-mata
sebagai cara untuk menafsirkan Bible, tetapi bidang filsafat tersendiri
yang independen. Inilah yang disebut dengan hermeneutika modern.
Ada tiga hal penting yang membentuk hermeneutika modern: perkembangan
dalam filologi klasik, jurisprudensi (artinya tafsir atas hukum, atau
teori tafsir hukum; dalam Islam disebut ushul fiqh),
dan filsafat. Perkembangan filologi terkait dengan studi atas
naskah-naskah kuno yang berasal dari Yunani. Bersamaan dengan Reformasi
Protestan, Eropa menyaksikan kebangkitan kajian atas naskah-naskah kuno
dari Yunani dan Romawi. Kajian ini menimbulkan suatu cabang ilmu baru,
yakni ilmu untuk menafsirkan dan memahami teks-teks kuno. Itulah
filologi.

Pada
saat itu tumbuh pula minat yang besar untuk mengkaji hukum Romawi.
Perkembangan ini juga sangat mempengaruhi tradisi hermeneutika modern.
Salah satu buku penting yang lahir dari periode itu adalah karya
Constantius Rogerius, Treatise Concerning the Interpretation of Law,
terbit 1463 M. Usaha pokok Rogerius adalah untuk melakukan harmonisasi
atau penyelarasan atas hukum warisan Kaisar Justinian. Usaha Rogerius
ini kira-kira sejajar dengan usaha Ibn Rushd yang mensistematisasi
mazhab Maliki, atau Maimonides yang mensistematisasi tradisi hukum rabi
dalam agama Yahudi, rabbinical laws, atau halakhah.

Perkembangan
dalam bidang filsafat juga berperan besar dalam terbentuknya tradisi
hermeneutika modern. Bahkan perkembangan dalam sektor inilah dapat kita
katakan memainkan peran yang paling penting. Ambisi para filsuf Eropa
pada abad 17, 18 dan 19 adalah ingin mensistematisasikan ilmu-ilmu
kemanusiaan secara koheren dan lengkap sebagai bidang yang berdiri
sendiri.

Salah satu perkembangan penting dalam hermeneutika modern adalah terbitnya buku karya Chladenius (m. 1759 M), Introduction to the Correct Interpretation of Reasonable Discourses and Books (Pengantar
untuk Interpretasi yang Tepat atas Ujaran Yang Masuk Akal dan Buku),
terbit pada 1742 M. Apa yang dilakukan oleh Chladenius dalam buku ini
bukan meletakkan landasan interpretasi yang berlaku untuk Bible, tetapi
interpretasi yang berlaku secara umum. Chladenius menyebut istilah "Auslegekunst" (dalam
bahasa Jerman) yang artinya adalah seni menafsir. Saya akan kutipkan baris yang penting dari Mueller-Vollmer sebagai berikut:

Since
"to be understood" was in the nature of an utterance, Chladenius
defined hermeneutics as the art of attaining the perfect or complete
understanding of utterances (vollstandiges Verstehen)*–whether they be speeches (Reden) or writings (Schriften).

Artinya:
Karena "untuk dapat dipahami" adalah watak dari segala ujaran,
Chladenius mentakrifkan hermeneutika sebagai seni untuk memperoleh
pemahaman yang sempurna dan lengkap mengenai ujaran-ujaran–baik ujaran
lisan atau tulisan.

Salah satu prinsip terkenal yang diutarakan Chladenius dalam karyanya ini adalah apa yang disebut sebagai "Sehe-Punckt"
atau teori sudut pandang. Menurut teori ini, jika ada dua laporan
berbeda tentang fakta sejarah yang sama, maka hal itu bukan berarti ada
kontradiksi antara keduanya. Perbedaan terjadi, menurut dia, karena
adanya perbedaan sudut pandang. Setiap manusia, dalam pandangan dia,
melihat peristiswa di sekelilingnya sesuai dengan sudut pandangnya
sendiri.

Pandangan ini dipinjam oleh Chladenius dari karya filosof terkenal Yahudi, Leibniz, Optics. Ada kemungkinan pula, Chladenius dipengaruhi oleh karya Leibniz yang lain, Monadology. Dalam karya terakhir itu, Leibniz antara lain mengutarakan bahwa masing-masing monad,
atau wujud dalam dunia ini, mempersepsi alam raya yang sama, tetapi
dari sudut pandang yang berbeda-beda. Inilah yang belakangan antara
lain melahirkan suatu teori mengenai perspektivalisme, yakni bahwa ada banyak kebenaran sesuai dengan masing-masing sudut pandang
yang dimiliki oleh pihak yang berbeda-beda.

Demikianlah,
hermeneutika terus berkembang dengan pesat, seturut dengan perkembangan
paham-paham filsafat di Eropa. Sejumlah tokoh yang meninggalkan "sidik
jari" yang menonjol adalah Friedrich Schleiermacher, Wilhelm von
Humboldt, Johann Gustav Droysen, August Boeckh, Wilhelm Dilthey, Edmund
Husserl, Roman Ingarden, Martin Heidegger, Hans-Georg Gadamer, dan
terakhir Jurgen Habermas yang masih hidup hingga saat ini.

Nama
Schleiermacher cukup penting diulas sedikit karena ia telah memberikan
sumbangan yang sangat penting dalam tradisi hermeneutika modern.
Sumbangan Schleiermacher merupakan "watershed" atau titik balik yang
penting. Schleiermacher dikenal karena mengajukan konsep mengenai
"pemahaman" atau Verstehen, sebelum Dilthey. Hermeneutika dalam pandangan Schleiermacher bukan sekedar menerangkan sesuatu yang samar dalam ujaran, atau al-kashf wa al-bayan dalam istilah al-Suyuti, tetapi, "above all concerned with illuminating the conditions for the possibility of understanding and its modes of interpretation."
(Kutipan dari Mueller-Vollmer) Kalimat ini tak mudah dimengerti dengan
sederhana kecuali bagi mereka yang terbiasa dalam studi filsafat.
Kira-kira kalimat itu berarti: hermeneutika berkenaan dengan usaha
menerangkan syarat-syarat kemungkinan untuk memahami, dan cara-cara
untuk menafsirkannya. Dengan kata lain, obyek pokok hermeneutika bukan
lagi sekedar menerangkan dan membuka rahasia kode-kode tekstual, tetapi
pemahaman itu sendiri sebagai pengalaman manusia, bagaimana itu
mungkin, serta bagaimana pula menafsirkannya.

Salah satu
sumbangan penting Schleiermacher adalah bahwa pemahaman selalu terkait
dengan aspek bahasa. Inilah yang disebut dengan "linguistikalitas" atau
kemembahasaan dalam kegiatan
pemahaman. Setiap aktivitas memahami tak bisa dipisahkan dari aspek
bahasa. Tentu bukan tempatnya di sini saya mengulas seluruh teori yang
dikembangkan oleh para filsuf yang memberikan kontribusi penting dalam
pembentukan hermeneutika modern. Ini hanyalah sekedar "kelebatan" untuk
memberikan isyarat kepada pembaca.

Kesimpulan
yang penting adalah bahwa hermeneutika, meskipun berawal sebagai cara
untuk menafsir Kitab Suci atau Bible, tetapi perkembangan belakangan
memperlihatkan bahwa ia bergerak secara independen sebagai ilmu atau
seni menafsir yang berlaku secara umum. Perkembangan hermeneutika saat
ini lebih banyak dipengaruhi oleh teori-teori baru dalam filsafat
ketimbang oleh kajian Bible. Yang terjadi justru sebalinya:
perkembangan penafsiran atas Bible lebih banyak dipengaruhi oleh
perkembangan dalam filsafat. Inilah yang menjelaskan kenapa saat ini
muncul hermeneutika feminis atau penafsiran Bible berdasarkan
perspektif perempuan, misalnya; disebut "feminist hermeneutics".

Para
penulis Muslim yang melakukan "perang salib" atas hermeneutika jelas
keliru sama sekali ketika mengatakan bahwa menerapkan hermeneutika
dalam studi Qur’an sama saja dengan menerapkan teori tafsir Bible
terhadap Kitab Suci umat Islam itu.
Sebagaimana kita lihat
sendiri, hermeneutika sudah berdiri sendiri sebagai bidang yang otonom.
Penafsiran Bible justru sekarang banyak dipengaruhi oleh hermeneutika
yang berkembang di luar kajian Alkitab. Nama-nama besar dalam
perkembangan hermeneutika modern, seperti Gadamer, Heidegger, Dilthey,
dan Habermas sama sekali tak terkait dengan perkembangan kajian Alkitab.

Salah
paham yang lain adalah bahwa hermeneutika oleh sebagian kalangan
sarjana Muslim Indonesia diidentikkan dengan pendekatan dalam studi
Bible yang dikenal sebagai biblical criticism,
atau kajian atas bentuk-bentuk literer Bible untuk melacak kronologi
penulisannya. Memang sejarah hermeneutika antara lain dibentuk melalui
tradisi filologi yang menjadi dasar dari kritisisme biblikal. Tetapi,
sebagaimana sudah saya tunjukkan di atas, perkembangan hermeneutika
tidak semata-mata dibentuk oleh filologi, tetapi terutama oleh
paham-paham dalam filsafat. Di benak para pengkritik hermeneutika itu
terdapat pra-anggapan yang jelas keliru bahwa menerapkan hermeneutika
akan berujung dengan penerapan metode yang dipakai John Wansbrough yang
kontroversial itu dalam studi Qur’an. Ini jelas kesalahpamahan yang
fatal. Dalam diskusi mengenai hermeneutika Qur’an saat ini, kajian
Wanbrough justru sama sekali tidak diperhitungkan sebagai salah satu
bentuk pelaksanaan dari hermeneutika.

Mungkinkah meminjam hermeneutika?

Beberapa
penulis Muslim menolak keras hermeneutika karena dianggap sebagai
metode penafsiran yang tidak pas dengan Qur’an. Menurut mereka, sarjana
Islam mengembangkan tradisi tafsir sendiri yang lebih sesuai dengan
Qur’an. Memakai hermeneutika dalam memahami Qur’an akan merusak
integritas Kitab Suci umat Islam itu. Bahkan ada sebagian yang
berpandangan bahwa hermeneutika akan merusak Islam dari dalam.

Apakah betul pandangan seperti itu? Marilah kita periksa asumsi-asumsi yang dipakai oleh para pengkritik hermeneutika itu.

Asumsi
pertama: tampak ada semacam pandangan bahwa antara hermeneutika dan
tafsir/ta’wil sebagaimana dikenal dalam studi Qur’an sama sekali tak
ada kemungkinan titik temu. Ini jelas salah sama sekali. Seperti kita
lihat dalam penjelasan di atas, teori Schleiermacher tentang pentingnya
aspek bahasa dalam penafsiran dan pemahaman suatu ujaran jelas bertemu
dengan pandangan para penafsir Qur’an yang dengan tegas menekankan
pentingnya "konvensi bahasa" (al-wadh’ al-lughawi)
dalam penafsiran. Tafsir tidak bisa bergerak bebas menabrak
aturan-aturan kebahasaan. Tentu pada tingkat renik-renik bisa terjadi
perbedaan, tetapi pada level teori besarnya, ada kesejajaran antara
perspektif Schleiermacher mengenai kemembahasaan pemahaman dengan
pandangan mufassir Islam.

Asumsi
kedua: apa yang disebut sebagai metode tafsir atau ta’wil dalam
memahami Qur’an seolah-olah monolitik atau tunggal. Para pengkritik
hermeneutika sering mengatakan bahwa penafsiran Qur’an memiliki
metodenya sendiri yang lebih "pribumi". Pernyataan yang sifatnya umum
ini jelas mengandung generalisasi yang mengelabui pandangan para
pembaca awam yang tak membaca dengan baik keragaman metode penafsiran
Qur’an.

Sebagaimana kita ketahui, dalam penafsiran Qur’an
terjadi pertengakaran yang tak kalah hebat antara para penafsir Qur’an.
Sejumlah tafsir yang ditulis oleh ulama klasik dianggap "sesat" karena
memakai pendekatan yang dianggap tidak-orotodoks. Contoh yang terkenal
adalah tafsir
Al-Kashshaf

karya al-Zamakhshari yang meskipun dibaca luas tetapi selalu
"dicurigai" karena dianggap membawa pandangan kaum Mu’tazilah. Tafsri
kaum batiniyyah atau mereka yang memakai pendekatan esoteris juga sering dikritik sebagai penyimpangan.

Apa yang disebut sebagai "tafsir" dalam tradisi Islam dalam kenyataannya adalah wilayah yang lentur, fluid,
cair, dan fleksibel. Tidak ada metode tafsir yang tunggal dalam Islam.
Bahkan sejak awal, kegiatan penafsiran Qur’an sudah menjadi semacam
"kuda troya" untuk menyelundupkan pandangan-pandangan
teologis-filosofis para penafsirnya. Oleh karena itu, bukan rahasia
lagi jika seorang penafsir memiliki kecenderungan Ash’ariyyah atau
Maturidiyyah, maka dalam menafsirkan Qur’an ia akan memakai cara
pandang Ash’ari dan Maturidi. Jika seorang penafsir memiliki
kecenderungan mistik, ia akan memakai tasawwuf dalam memahami sejumlah
ayat dalam Qur’an. Kalau dia seorang Shi’ah, tentu ia akan menafsirkan
Qur’an dengan memakai sudut pandang sekte itu. Demikianlah seterusnya.

Begitu
pula kita saksikan bahwa perkembangan corak tafsir akan makin beragam.
Semakin jauh dari periode Nabi, semakin beragam pula corak tafsir yang
berkembang. Ini hal yang lumrah saja. Karena ilmu berkembang terus,
maka pendekatan tafsir juga berkembang. Sebab tafsir tak pernah
mengenal metode yang baku. Ketika dalam masa-masa belakangan berkembang
filsafat Islam yang dipengaruhi oleh ide-ide neo-platonisme, maka lahir
pula corak tafsir yang dipengaruhi oleh filsafat itu, seperti dilakukan
oleh Ibn Sina saat menafsirkan sebuah ayat dalam Surah al-Nur mengenai
cahaya Tuhan (baca misalnya risalah dia, Risalah fi Ithbat al-Nubuwwat).

Saya
hendak bertanya kepada para "pembenci" hermeneutika: bisakah anda
menyebutkan kepada saya apa yang dimaksud dengan metode tafsir Qur’an?
Apakah ada metode tafsir baku yang berlaku dari zaman klasik sampai
kiamat? Apakah yang anda maksud dengan metode tafsir "Islami" adalah
metode yang dipakai dalam tafsir bercorak kebahasaan (al-tafsir
al-lughawi), atau tafsir fiqhi, kalami, shufi, balaghi? Apakah tafsir bi ‘l-naql atau bi ‘l-ra’y? Apakah tafsir ala ahl al-hadis atau kalam?

Sejujurnya,
setiap kegiatan tafsir selalu "dikendalikan" oleh pandangan-pandangan
yang dibawa penafsirnya. Di sini letak relevansi salah satu teori
hermenetika, yaitu bahwa sudut pandang penafsir sangat mempengaruhi
penafsiran. Jika seseorang memiliki pandangan keagamaan yang
fundamentalistis, ia akan menafsirkan Qur’an sesuai dengan pandangannya
itu, seperti kita lihat dalam tafsir karya Sayyid Qutb.

Penolakan
atas hermeneutika sebetulnya bukan didorong oleh alasan yang secara
formal dikatakan oleh para pengkritiknya itu. Misalnya, karena Qur’an
memiliki metode penafsiran sendiri. Kalau mau jujur, sebetulnya mereka
tahu sejak awal bahwa apa yang disebut dengan "metode tafsir Qur’an"
itu tidak pernah jelas batas-batasnya. Seperti saya tunjukkan di atas,
tafsir Qur’an selalu menjadi wahana untuk mengusung sejumlah ideologi
dan doktrin yang berbeda-beda. Itu terjadi sejak dahulu kala. Tafsir
Qur’an juga selalu berkembang dari waktu ke waktu.

Apa sebetulnya motif pokok mereka?

Mereka
sebetulnya khawatir jika teori hermeneutika diterapkan, monopoli mereka
terhadap penafsiran Qur’an akan tergerogoti. Mereka ingin "mengunci"
Qur’an dalam tafsiran tertentu. Semangat yang mendasari para pengkritik
hermeneutika ini persis dengan semangat gereja Vatikan dulu yang anti
perubahan. Cara paling ampuh dan "cespleng" bagi kaum konservatif di
mana-mana adalah dengan mengesankan seolah-olah Kitab Suci hanya
memiliki satu "suara" saja, yaitu suara mereka sendiri. Jika ada yang
menggugat suara mereka itu, langsung keluar tuduhan bahwa hal itu
bertentangan dengan Qur’an.

Sebagaimana dikatakan oleh sahabat Ali, Qur’an adalah "hammalun dzu wujuh",
kitab suci yang mengandung banyak kemungkinan tafsir. Para pengkritik
hermeneutika biasanya akan mengatakan bahwa memang benar Qur’an
mengandung keragaman tafsir. Tetapi keragaman itu harus dibatasi oleh
kaidah dan batas-batas tertentu. Pertanyaan saya: batas-batas itu siapa
yang menentukan? Dan apa yang disebut batas-batas penafsiran? Bukankah
batas-batas itu sebetulnya alat saja di tangan kaum "ortodoks" untuk
memonopoli tafsir?

Jadi, apakah hermeneutika bisa dipinjam dalam memahami Qur’an?

Pertanyaan
ini sebetulnya merupakan bagian dari pertanyaan yang lebih besar lagi:
apakah metode penafsiran Qur’an bisa terus dikembangkan? Jawabannya tentu ya.
Sejarah penafsiran Qur’an sendiri memperlihatkan perkembangan metode
tafsir yang sangat kaya. Kalangan yang mengkritik hermeneutika
sebetulnya menyukai metode tafsir baru yang tak ada dalam sejarah
penafsiran klasik, yaitu al-tafsir al-‘ilmi,
atau tafsir saintifik yang biasanya berisi usaha mencocok-cocokkan
ayat-ayat Qur’an dengan penemuan sains modern. Mereka tak pernah
keberatan dengan metode "baru" ini, karena dengan demikian akan tampak
bahwa Qur’an telah mendahului ilmu pengetahuan modern. Bagaimana mereka
bisa menerima metode tafsir baru seperti ini seraya menolak metode baru
lainnya, yaitu hermeneutika? Apakah kriteria yang mereka pakai untuk
menerima yang satu dan menolak yang lain?

Kita menjumpai
sejumlah inkonsistensi dalam cara berpikir para pengkritik hermeneutika
itu. Sikap dasar mereka sebetulnya jelas: konservatisme dan ingin
memonopoli Qur’an sebagai hak tunggal mereka. Qur’an harus dipahami
dengan cara tertentu. Itulah motif pokok penolakan mereka.

Dengan
kata lain, penolakan ini adalah bagian dari cara kerja ortodoksi Islam
untuk melindungi kekuasan tafsirnya sendiri. Akibat praktis dari mindset
seperti ini, seperti kita tahu, adalah gejala mudahnya kelompok
ortodoks Islam menyesatkan paham atau golongan yang dianggap berlawanan
dengan tafsiran mereka.

Hermeneutika sebagai metode tafsir tidak
seharusnya diperlawankan dengan tafsir. Tentu tidak semua hal dalam
teori hermeneutika bisa diterapkan dalam Qur’an. Sebagaimana setiap
bentuk "apropriasi" metode, selalu dibutuhkan usaha pempribumian,
sebagaimana para filsuf Islam dulu melakukan pribumisasi atas filsafat
Yunani. Semangat positif yang hendak dikumandangkan oleh hermeneutika
adalah ajakan untuk menyambut keragaman tafsir dengan dada terbuka,
bukan dengan muka yang bersungut-sungut dan cemberut.

Wa ‘l-Lahu a’lam bi ‘l-shawab.

Facebook Comments:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Read previous post:
Gaza…Hilangnya Pertimbangan

Gaza bukanlah sekadar lokasi Muslim yang terpenjara di tanah sendiri. Tetapi ia juga diduduki oleh manusia yang punya hak untuk...

Close