Aku Beriman Maka Aku Bertanya

Dalam kehidupan seharian, banyak perkara yang melibatkan keimanan tidak dibenarkan untuk ditanya oleh pelbagai pihak kerana ia menunjukkan ketidaksempurnaan iman. Benarkah begitu? Dalam buku Jeffry Lang yang ketiga, beliau mengetengahkan bahawa ‘Aku Beriman Maka Aku Bertanya.’ Ini amat jelas dengan melihat malaikat mempersoalkan Allah untuk menjadikan manusia tetapi iblis terus menolak tanpa tanya arahan Allah untuk sujud kepada Nabi Adam. Bukankah dalam kehidupan seharian, apabila kita menolak terus seseorang tanpa usul periksa – terutama yang membawa kepada keburukan – menyerupai tindakan Iblis? Inilah tenik berfikir dan analisis orang yang beriman dan tidak beriman atau sombong kepada Allah.

Dalam satu email, saya sempat menguti p tulisan seorang Indonesia berkaitan hal ini. Hayatilah apa yang dinyatakannya:

Nah, dalam kehidupan sehari-hari, meski telah ada contoh yang begitu bagus dalam AlQuran, banyak guru agama dan kyai tidak mau belajar darinya. Pokoknya kalau mereka sudah ’bersabda’ pada santrinya maka ’no question allowed’. Setiap orang harus ‘sami’na wa ato’na’ tanpa reserve. Mereka mengadopsi tradisi militer!

Akhirnya yang terjadi adalah munculnya penganut-penganut agama yang ‘tahu tapi tidak paham’. Fanatik buta tanpa makna. Berani mati untuk sesuatu yang tak berarti. Tahu bahwa ‘kebersihan adalah sebagian adalah iman’ tapi tidak tahu bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tahu bahwa waktu sangat penting tapi menyia-nyiakannya.

[“mb”,”
\ngarang terhadap orang yang dianggap bukan kelompoknya dan tidak punya
\nprinsip, dst..dst… .
\n
\nJadi begitu membaca judul buku Lang yang pertama saya langsung jatuh
\ncinta begitu saja. Kok ya pas betul dengan argumentasi yang saya
\nbutuhkan gitu lho! Selama ini saya sering dicibir karena sering
\nmempertanyakan hal-hal yang tidak boleh ditanyakan lagi karena dianggap
\nsudah ’final’. Final apane? Lha wong malaikat, mahluk yang paling
\npatuh, aja boleh kok mempertanyakan keputusan Tuhan! Opo keputusan
\nTuhan itu gak final tah? Itu saja dipertanyakan oleh malaikat je!
\nBuku Lang pertama langsung menjadi pemuas dahaga intelektual saya dan
\nsaya sungguh berterima kasih pada Lang karena banyak
\npertanyaan-pertanyaan saya terjawab oleh pengalaman-pengalaman dan
\npemahaman-pemahamannya. Thanks, Mr. Lang!, karena telah membantu
\nmenjawab pertanyaan-pertanyaan saya dan membuat hidup saya menjadi
\nlebih ringan karenanya. Semoga Allah melimpahimu dengan berkah dan
\nkarunia yang tak henti-hentinya.
\n
\nBuku keduanya ”Berjuang untuk Berserah” juga memuaskan saya karena
\npersis dengan jalan hidup saya. Saya mesti berjuang untuk menemukan
\njawaban-jawaban tentang pertanyaan saya baru saya bisa berserah
\n(surrender) alias beriman pada Tuhan. Seperti juga para malaikat yang
\ntidak terima begitu saja penjelasan Tuhan ”Aku mengetahui apa yang
\ntidak kamu ketahui” (Q.S. 2:30) dan baru mengatakan ”Mahasuci Engkau.
\nTak ada yang kami ketahui melainkan apa yang telah Engkau ajarkan
\nkepada kami; sesungguhnya Engkaulah yang Mahamengetahui lagi
\nMahabijaksana.”(Q.S. 2:32) setelah Adam diminta untuk menunjukkan
\nkelebihan-kelebihannya yang tidak dimiliki oleh para malaikat. Baru
\nsetelah para malakat tersebut mendapatkan jawaban yang memuaskan rasa
\npenasaran mereka barulah mereka ’surrender’.
\n
\nJadi mempertanyakan ’kebijakan’ Allah itu OK-OK saja kok! Bahkan
\nmalaikat saja boleh. Mosok kita ndak boleh! Kita kan manusia biasa.
\nJustru dengan bertanya itulah kita akan mendapatkan jawaban-jawaban”,1] ); //–> Tahu bahwa perintah Tuhan yang pertama bagi umat Islam adalah ‘Membaca’ dan bukannya sholat, ngaji, atau zakat, tapi tidak pernah melakukannya. Tahu bahwa Rasulullah adalah orang yang paling lemah lembut terhadap siapapun tapi paling tegas dalam prinsip, tapi justru menampilkan sikap garang terhadap orang yang dianggap bukan kelompoknya dan tidak punya prinsip, dst..dst… .

 

Malaikat bertanya, iblis menolak terus

Buku ketiga ini menegaskan bahwa justru karena ”Aku Beriman, maka Aku Bertanya” sebagaimana sikap para malaikat. Sebaliknya, iblis tidak bertanya tapi ketika diminta untuk sujud pada Adam mereka langsung menolak dan menyombongkan diri sehingga mereka dikutuk. ”Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat ”Sujudlah kamu kepada Adam,”
Mereka pun sujud kecuali iblis; Ia menolak dan menyombongkan diri; dan ia termasuk golongan yang tidak beriman.” (Q.S. 2:34). Jadi bedanya iblis dengan malaikat itu adalah iblis tidak bertanya tapi langsung menganggap bahwa keputusan Tuhan itu salah. Dan mereka
langsung menolak tanpa merasa perlu bertanya lagi. ”Manusia itu apa sih? Lha wong hanya terbuat dari tanah aja kok dianggap hebat, lebih hebat dari saya yang terbuat dari api, materi yang lebih unggul” .Itu adalah ciri kesombongan. Dan itulah yang membuat iblis masuk neraka. Mestinya iblis itu kan tahu bahwa Tuhan itu Mahamengetahui lagi Maha Bijaksana. Lha wong ia diciptakan lebih awal dari manusia dan waktu itu masih termasuk mahluk yang patuh. Tapi begitu diminta sujud pada Adam ’ego’nya langsung muncul. Tanpa tanya dulu apa maunya Tuhan dengan ’kebijakan’ tersebut tapi langsung menolak. Apa namanya itu kalau bukan sombong, alias menolak kebenaran? Tuhan itu Mahamengetahui dan Maha Bijaksana dan iblis tahu itu. Itu adalah kebenaran. Tapi ia menolaknya. Maka itu ia disebut sombong (anak-anak muda sering memlesetkan menjadi ’somsek’). Itu cirinya iblis.

 

Facebook Comments:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Read previous post:
Nama Allah – ar-Rahman

Apakah yang dimaksudkan dengan ar-Rahmaan? Maha Pemurah atau The All Beneficient. Apakah kaitan nama ini dengan kejayaan setiap individu?

Close