Tazakkur dan tafakkur

Baik tadzakkur maupun tafakkur punya faedah masing-masing. Tadzakkur berarti hati mengulang-ulang apa yang diketahuinya agar tertanam dengan kuat di dalamnya, sehingga tidak terhapus dan pudar dari dalam hati secara keseluruhan. Adapun tafakur berarti memperbanyak ilmu dan mencari apa yang belum ada di hati. Jadi tafaknr itu gunanya mencari ilmu dan tadzakkur berguna untuk menjaganya. Oleh karena itu, Hasan al-Bashri berkata, “Para ulama senantiasa memanfaatkan tafakkur dan tadzakkur. Mereka berbicara dengan hati sampai akhirnya hati itu melahirkan hikmah.”

Jadi, tafakkur dan tadzakkur adalah benih ilmu. Saling bertanya adalah siramannya, dan mudzakarah adalah pembuahannya. Seorang salaf pernah menyatakan, “Pertemuan antar para ulama adalah pembuahan otak mereka.” Karena, dalam mudzakarah terdapat pembuahan akal.
Kebaikan dan kebahagiaan itu tersimpan di dalam sebuah gudang, kuncinya adalah tafakkur. Jadi harus ada tafakkur dan ilmu. Apabila dari proses itu kemudian hati memperoleh ilmu, maka setiap orang yang melakukan suatu hal yang baik atau buruk pasti ada satu kondisi di hatinya yang terwarnai oleh ilmunya. Kondisi itu melahirkan iradah (kehendak), dan iradah melahirkan amal. Sampai di sini ada lima hal:
(1) berpikir,
(2) buahnya, yaitu ilmu,
(3) buah dari keduanya, yaitu keadaan yang terwujud bagi hati,
(4) buah yang ditimbulkannya, yaitu iradah, dan
(5) buah iradah, yaitu amal.

Dengan demikian, ilmu adalah titik permulaan dan kunci segala kebaikan.

Hal ini tentu membuktikan keutamaan dan kemuliaan tafakkur. Hal itu juga membuktikan bahwa tafakkur tergolong amal hati yang paling utama dan paling bermanfaat bagi hati itu sendiri; sampai dikatakan, “Tafakkur sesaat lebih baik dari ibadah setahun.” Hanya berpikir yang dapat mengubah seseorang dari matinya kecerdasan kepada hidupnya kesadaran, dari kebencian kepada cinta, dari rakus dan tamak menjadi zuhud dan qana’ah, dari penjara dunia ke cakrawala akhirat, dari sempitnya kebodohan ke lapangnya ilmu, dari penyakit syahwat dan cinta kehidupan fana ini ke sehatnya taobat kepada Allah dan mengesampingkan dunia, dari musibah buta, tuli, dan bisu ke nikmat melihat, mendengar, dan paham tentang Allah. Juga dari penyakit-penyakit syubhat (keraguan) ke sejuknya keyakinan dan tenteramnya dada.

(Sumber: Miftaah Daarus Saadah)

Facebook Comments:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Read previous post:
Perlunya proses berfikir

CoRT atau Cognitive Research Trust adalah satu teknik yang diperkenalkan oleh Edward de Bono untuk melatih berfikir. Kemahiran ini amat

Close