{"id":2907,"date":"2006-10-17T10:55:59","date_gmt":"2006-10-17T10:55:59","guid":{"rendered":"\/hampir_saja_langit_pecah\/"},"modified":"2011-06-12T22:34:07","modified_gmt":"2011-06-12T22:34:07","slug":"hampir_saja_langit_pecah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/membinalegasi.com\/v1\/hampir_saja_langit_pecah\/","title":{"rendered":"Hampir Saja Langit Pecah"},"content":{"rendered":"<p class=\"MsoNormal\">Dua peristiwa dengan dua sebab yang berbeda hampir saja menghasilkan<br \/> kejadian yang luar biasa, yaitu pecahnya langit. Pada persitiwa yang pertama<br \/> langit hampir pecah karena kemurkaan Allah SWT. terhadap mereka yang<br \/> mengatakan bahwa Allah mempunyai anak. Ucapan atau tuduhan itu begitu<br \/> dahsyat kemungkarannya. Betapa tidak, Allah yang berbeda dengan makhluk<br \/> manapun itu &#8211;&quot;mukhalafatu lil hawadits&#8211; diserupakan dengan manusia (yang<br \/> mempunyai anak) yang justru diciptakan-Nya untuk beribadah kepada-Nya. <\/p>\n<p> Penyerupaan ini jelas membuat Allah murka! <br \/> Peristiwa kedua terjadi justru karena kebesaran Allah. Malaikat pun<br \/> bertasbih serta memuji Allah dan memohonkan ampunan bagi penduduk bumi.<br \/> Kebesaran dan keagungan Allah tidak terkira sehingga ketika Dia diminta Nabi<br \/> Musa menampakkan wujud-Nya, bukit tempat Musa berdiri menjadi hancur dan<br \/> Musa jatuh pingsan. Kali ini Allah menampakkan kebesaran-Nya pada langit,<br \/> dan langit yang demikian luas itu hampir pecah karena tak mampu menyaksikan<br \/> kebesaran dan keagungan Allah. <\/p>\n<p> Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari kisah-kisah di atas? <br \/> Seringkali ketika kita berkuasa, kita bertingkah laku hendak menyerupai<br \/> Allah. Kitalah pemegang nasib bawahan kita. Hanya dengan selembar kertas<br \/> yang kita tandatangani seorang anak manusia bisa jatuh terduduk atau bisa<br \/> meloncat-loncat kegirangan. Ketika ada rakyat yang hendak datang ke kantor,<br \/> kita lempar ia dari satu meja ke meja berikutnya. <br \/> Semua kebijakan tergantung petunjuk kita; semua pengacau kekuasaan kita beri<br \/> hadiah &quot;azab yang pedih&quot; dan nyawa mereka tak ada harganya bagi kita. Senyum<br \/> kita menjadi tanda tanya; apakah sedang suka atau sedang marah. Bawahan kita<br \/> sibuk menafsirkan gerak tubuh kita hanya untuk menyelami apakah kita sedang<br \/> suka atau tengah berduka. <\/p>\n<p> Saya khawatir pada saat kita berprilaku menyerupai kekuasaan Allah maka<br \/> langit akan pecah karena murka Allah. Bukankah segala bentuk penyerupaan<br \/> harus ditiadakan; apakah itu berarti memiliki kekuasaan tiada batas, memberi<br \/> azab ataupun menentukan nyawa orang lain. Segala bentuk kesombongan dan<br \/> takabur harus dilenyapkan, karena hanya Allah yang berhak untuk takabur<br \/> (Al-Mutakabbir). <br \/> Sementara itu, di sepuluh malam terakhir Ramadhan ini, kita menunggu langit<br \/> yang hampir pecah, saat Malaikat bertasbih memuji Allah dengan suara yang<br \/> bergemuruh, mereka turun atas perintah Allah dan memohon ampun untuk<br \/> penduduk bumi. Kita sambut kehadiran malaikat itu dengan gemuruh suara<br \/> tasbih dan rintihan tangisan memohon ampunan Allah. Puji-pujian dari<br \/> penduduk langit kepada Allah bertemu dengan puji-pujian penduduk bumi untuk<br \/> Allah. Boleh jadi langit hampir pecah pada malam-malam akhir Ramadhan ini. <\/p>\n<p> Pertanyaannya, tengoklah diri kita sekarang baik-baik. Yang mana yang kita<br \/> tunggu? apakah kita menunggu langit hampir pecah karena murka Allah atau<br \/> karena kebesaran-Nya?<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p> Paling tidak, ada dua peristiwa yang menyebabkan langit hampir pecah.<br \/> Pertama, dalam surat Maryam ayat 90-91 disebutkan: <br \/> &quot;Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan<br \/> gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah<br \/> mempunyai anak&quot; <br \/> Kedua, al-Qur&#39;an menginformasikan kepada kita peristiwa lain yang juga<br \/> hampir saja membuat langit pecah, yaitu dalam surat Asy-Syura ayat 5: <br \/> &quot;Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya (karena kebesaran Tuhan)<br \/> dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Tuhannya dan memohonkan ampun<br \/> bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah<br \/> Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&quot;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":6606,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"colormag_page_container_layout":"default_layout","colormag_page_sidebar_layout":"default_layout"},"categories":[120,127],"tags":[],"series":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/membinalegasi.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2907"}],"collection":[{"href":"https:\/\/membinalegasi.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/membinalegasi.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/membinalegasi.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/membinalegasi.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2907"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/membinalegasi.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2907\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3412,"href":"https:\/\/membinalegasi.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2907\/revisions\/3412"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/membinalegasi.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6606"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/membinalegasi.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2907"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/membinalegasi.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2907"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/membinalegasi.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2907"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/membinalegasi.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/series?post=2907"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}