{"id":1230,"date":"2008-02-01T03:04:45","date_gmt":"2008-02-01T03:04:45","guid":{"rendered":"\/8_pengertian_cinta_menurut_qur_an\/"},"modified":"2011-06-12T21:24:30","modified_gmt":"2011-06-12T21:24:30","slug":"8_pengertian_cinta_menurut_qur_an","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/membinalegasi.com\/v1\/8_pengertian_cinta_menurut_qur_an\/","title":{"rendered":"8 Pengertian Cinta Menurut Qur&#8217;an"},"content":{"rendered":"<p>Dalam Qur&#8217;an cinta memiliki 8 pengertian berikut ini penjelasannya:<\/p>\n<p>1. Cinta mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan<br \/>\n&quot;nggemesi&quot;. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu<br \/>\nberdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia<br \/>\ningin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.<\/p>\n<p>2. Cinta rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut,<br \/>\nsiap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis<br \/>\nrahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding<br \/>\nterhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang<br \/>\nkekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi<br \/>\nkekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya.<br \/>\nTermasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar  orang yang bertalian<br \/>\ndarah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari<br \/>\nitu maka dalam al Qur&#8217;an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham ,<br \/>\nyakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri,<br \/>\nyang berasal dari garba kasih sayang  ibu, disebut rahim (dari kata<br \/>\nrahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana<br \/>\npsikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim. <br \/>\nSelanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah<br \/>\ndianjurkan untuk selalu ber silaturrahim, atau silaturrahmi artinya<br \/>\nmenyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta<br \/>\nmawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia<br \/>\nakhirat.<\/p>\n<p>3. Cinta mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara,<br \/>\nsehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung<br \/>\nkurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur&#8217;an disebut<br \/>\ndalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada<br \/>\nyang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang<br \/>\nlama. <\/p>\n<p>4. Cinta syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil<br \/>\ndan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad<br \/>\nsyaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir<br \/>\ntak menyadari apa yang dilakukan. Al Qur&#8217;an menggunakan term syaghaf<br \/>\nketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir<br \/>\nkepada bujangnya, Yusuf.<\/p>\n<p>5. Cinta ra&#8217;fah, yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan<br \/>\nnorma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak<br \/>\ntega membangunkannya untuk salat, membelanya meskipun salah. Al Qur&#8217;an<br \/>\nmenyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah<br \/>\nmenyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus<br \/>\nhukuman bagi pezina (Q\/24:2).<\/p>\n<p>6. Cinta shobwah, yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku<br \/>\npenyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur&#8217;an menyebut term ni ketika<br \/>\nmengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan<br \/>\nZulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja),<br \/>\nsebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan<br \/>\nbodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al<br \/>\njahilin (Q\/12:33)<\/p>\n<p>7. Cinta syauq (rindu). Term ini bukan dari al Qur&#8217;an tetapi dari<br \/>\nhadis yang menafsirkan al Qur&#8217;an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5<br \/>\ndikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan<br \/>\ntiba.  Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma&#8217;tsur<br \/>\ndari hadis riwayat Ahmad; wa as&#8217;aluka ladzzata an nadzori  ila wajhika<br \/>\nwa as syauqa ila liqa&#8217;ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya<br \/>\nmemandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu.<br \/>\nMenurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa<br \/>\nNuzhat al Musytaqin,  Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada<br \/>\nsang kekasih (safar al qalb ila al mahbub),  dan kobaran cinta yang<br \/>\napinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa il<br \/>\ntihab naruha fi qalb al muhibbi<\/p>\n<p>8. Cinta kulfah. yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik<br \/>\nkepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang<br \/>\nmenyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada<br \/>\npembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur&#8217;an ketika  menyatakan bahwa<br \/>\nAllah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la<br \/>\nyukallifullah nafsan illa wus`aha (Q\/2:286)<\/p>\n<p>Salam Cinta,<br \/>\nagussyafii<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" src=\"images\/stories\/heart.jpg\" alt=\"heart.jpg\" title=\"heart.jpg\" style=\"margin: 5px; float: left\" height=\"96\" width=\"96\" \/>Menurut hadis Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai&#8217;an katsura dzikruhu), kata Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya (man ahabba syai&#8217;an fa huwa `abduhu). Kata Nabi juga, ciri dari cinta sejati ada tiga : (1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, (2) lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, dan (3) lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang lain\/diri sendiri. Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Alloh SWT, maka ia lebih suka berbicara dengan Alloh Swt, dengan membaca firman Nya, lebih suka bercengkerama dengan Alloh SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti perintah Alloh SWT daripada perintah yang lain.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":6606,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"colormag_page_container_layout":"default_layout","colormag_page_sidebar_layout":"default_layout"},"categories":[1],"tags":[],"series":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/membinalegasi.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1230"}],"collection":[{"href":"https:\/\/membinalegasi.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/membinalegasi.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/membinalegasi.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/membinalegasi.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1230"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/membinalegasi.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1230\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2227,"href":"https:\/\/membinalegasi.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1230\/revisions\/2227"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/membinalegasi.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6606"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/membinalegasi.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1230"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/membinalegasi.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1230"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/membinalegasi.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1230"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/membinalegasi.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/series?post=1230"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}